01 Juli 2013

Living with dirty water (?)

Tidak dipungkiri lagi air adalah salah satu kebutuhan utama makhluk hidup khususnya manusia dan merupakan sebuah hak asasi bagi manusia untuk mendapatkan air yang bersih. Namun bagaimana kenyataannya? masih banyak sekali manusia yang tidak mendapatkan hak-nya. Menurut hasil survei Kementerian Lingkungan Hidup, kondisi pencemaran air di Indonesia telah meningkat hingga 30% dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Angka tersebut didapat dari hasil pantauan pada 53 sungai di Indonesia dari tahun 2006 hingga 2011.
Ambil dua contoh sungai, Pertama Sungai Citarum. Taukah kalian bahwa Sungai Citarum menyediakan 80% kebutuhan air Jakarta? Hasil laboraturium menemukan bahwa sungai ini sudah tercemar bahan kimia yang digunakan oleh industri tekstil dan tentunya dapat meracuni sistem reproduksi manusia. Jakartans, can you imagine?? Apa yang kalian gunakan untuk mandi, cuci pakaian, dan lainnya (?)
1920-1935: Bendung pengairan di sungai Citarum dekat Walahar.
Juru foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley (sumber foto)

Urbanisasi pun menambah polusi pada air. Dikarenakan peningkatan jumlah masyarakat yang melakukan urbanisasi, maka daerah kota maupun pinggiran kota pun banyak berdiri bangunan. Tidak banyak dari bangunan-bangunan tersebut yang memperhatikan sistem drainase. Saluran air limbah dijadikan satu dengan saluran air lainnya dan akan berakhir di sungai. Limbah rumah tangga pun seperti air detergen ikut terbawa hingga ke sungai, dan pada akhirnya mencemari.

Kondisi air Sungai Citarum kini. (Sumber Foto)

Bangunan rumah di bantaran Sungai Citarum. (sumber foto)


Yang kedua adalah Sungai Ciliwung. Percaya tidak kalau Sungai Ciliwung dulunya bersih sekali dan dikonsumsi untuk air minum. Tidak hanya penduduk lokal saja yang memanfaatkannya, namun orang-orang Belanda yang tinggal di Jakarta pun juga. Jadi, dulu air Sungai Ciliwung ini oleh kebanyakan orang ditampung di dalam kolam yang sehingga warga tidak perlu ke sungai untuk mengambil air. Karena air dari Sungai Ciliwung dirasa lebih sejuk dan segar dibandingkan dengan air sumur, maka air sumur hanya dipakai untuk mencuci dan menyiram tanaman. Sempat tidak percaya awalnya membaca sebuah artikel mengenai Sungai Ciliwung tempo dulu, apalagi ketika disitu tertulis bahwa air Sungai Ciliwung biasanya diminum begitu saha, tanpa adanya proses penyaringan terlebih dahulu.

1920-1930: Pelabuhan Sunda Kelapa di sungai Ciliwung, Jakarta.
Juru foto: Georg Friedrich Johannes Bley. (sumber foto)
1914/1926: Pelabuhan Sunda Kelapa di sungai Ciliwung, Jakarta (sumber foto)

Namun seiring bertambahnya penduduk dan dilakukannya pembukaan lahan di sekitar sungai, berbagai masalah penyakit yang menyangkut air pun bermunculan. Sejak saat itu, kondisi Sungai Ciliwung semakin memburuk.
Bantaran Sungai Ciliwung yang nampak kumuh dan padat dengan bangunan rumah. (Sumber Foto)

Saya prihatin dengan kondisi air di Indonesia, apalagi jika saya melihat di televisi atau media cetak yang menampilkan keadaan sungai-sungai di Indonesia yang buruk. Banyak sekali rumah-rumah yang berdiri di bantaran sungai. Lebih miris lagi ketika saya melihat mereka melakukan aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di sungai tersebut dimana airnya sama sekali tidak layak untuk digunakan. Bau dan Keruh.
Untuk mengembalikan keadaan sungai menjadi seperti semula nampaknya sulit, namun ada cara yang bisa kita lakukan agar kondisi sungai serta air di Indonesia tidak semakin memburuk. Saya mengutip dari sini mengenai beragam tindakan selain tindakan preventif yang bisa kita lakukan. Berikut ini beberapa tindakan yang dapat kita lakukan untuk mengatasi pencemaran air , yaitu:
  1. Gunakan air dengan bijaksana. Kurangi penggunaan air untuk kegiatan yang kurang berguna dan gunakan dalam jumlah yang tepat.
  2. Kurangi penggunaan detergen. Sebisa mungkin pilihlah detergen yang ramah lingkungan dan dapat terurai di alam secara cepat.
  3. Kurangi konsumsi obat-obatan kimia berbahaya. Obat-obatan kimia yang berbahaya seperti pestisida, dan obat nyamuk cair merupakan salah satu penyebab rusaknya ekosistem air
  4. Tidak menggunakan sungai untuk mencuci mobil, truk, dan sepeda motor.
  5. Tidak menggunakan sungai untuk wahana memandikan hewan ternak dan sebagai tempat kakus.
  6. Jangan membuang sampah rumah tangga di sungai/danau. Kelola sampah rumah tangga dengan baik dan usahakan menanam pohon di pinggiran sungai/danau.
  7. Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar. 
  8. Mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis yang bertujuan untuk meningkatkan konservasi air bawah tanah
  9. Menanggulangi kerusakan lahan bekas pembuangan limbah B3.

Tidak sulit ko mengatasi pencemaran air, asal kita sadar bahwa air itu penting untuk kelangsungan hidup manusia dan kita mau untuk bergerak mengatasi pencemaran air. So, tunggu apa lagi? :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar